Setelah agak lama vakum (mungkin baru teteki), lelaki ganteng ini tiba-tiba mak bedunduk muncul lagi.  Dia adalah Mas Bambang Supriyadi satu dari banyak rekan yang peduli pada blog sederhana ini dan dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, menyempatkan waktu untuk convert kaset dan upload file wayang.  Saya bisa membayangkan betapa dengan kesabaran dan ketulusannya meski dibayangi bandwidh yang terbatas berhasil upload Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono yang kali ini menampilkan Lakon Pendhawa Sanga, salah satu lakon “wingit” yang hanya dalang tertentu berani menggelar.  Beruntung sekali blog ini bisa menampilkkan lakon ini untuk anda.

PANDHAWA SANGA (ANOMAN MANEGES)

Oleh Bambang Supriyadi

Setelah berhasil membentuk “Pandhawa Pitu” Pandhawa bermaksud mempererat dan pemperluas tali Persaudaraan dengan membentuk manunggaling “Pandhawa Sanga” yang terdiri dari Puntadhewa, Bima, Harjuna, Nakula, Sadewa  Baladewa, Kresna, Setyaki dan Hanuman.

Namun keinginan yang mulia itu ternyata menghadapi banyak hambatan dan tantangan. Yang pertama datang dari Prabu Baladewa yang berpendapat bahwa tidak sepatutnya Hanuman yang hanya berupa Kera menjadi anggota “Pandhawa sanga”. Yang berikutnya hambatan datang dari para Kurawa khususnya Pandhita Durna yang menuduh bahwa para pandhawa akan memperbanyak sekutu untuk menghadapi perang Bharata Yudha, dengan suruhan murid barunya Ratu Raksasa yang bernama Prabu Sukmo Lawung bermaksud menggagalkan terbentuknya Pandhawa Sanga……

Di sini Semar dan Hanuman sebagai pamonge pandhawa benar-benar mendapat tantangan untuk mencairkan suasana yang semakin keruh dan rumit.

Simak selengkapnya bersama Ki H. Manteb Sudharsono diiringi oleh sanggar karawitan Bima, pagelaran ini direkam pada saat pentas terbuka (live) namun demikian kualitas suara bagus, dapat kita dengar jelas dan kita nikmati suara Rebab, Siter dll.

  1. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_1a
  2. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_1b
  3. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_2a
  4. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_2b
  5. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_3a
  6. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_3b
  7. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_4a
  8. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_4b
  9. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_5a
  10. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_5b
  11. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_6a
  12. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_6b

Admin: mewakili rekan rekan sutresna budaya wayang kulit, saya menyampaikan usapan terima kasih dan penghargaan uyang setinggi-tingginya kepada Mas Bambang Supriyadi yang telah berkenan melengkapi koleksi Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono.  Ditunggu untuk lakon-lakon selanjutnya…………

Oleh: galuh | 7 Februari 2010

Prabu, Pranowo Budi

Secara phisik saya tidak mengenal lelaki ini.  Tetapi dihati saya, Budi Pranowo adalah sosok misterius yang namanya lekat dihati saya hampir setahun ini.  Saya hanya mengenal laki-laki ini melalui tulisan dan upload file yang selalu saya ikuti sejak dua tahun terakhir.

Sejujurnya, kendati saya tak mengenalnya tetapi wibawanya sangat saya rasakan sehingga menulis sesuatu kepadanya memerlukan kehati-hatian yang lebih dari biasanya.  Saya harus memilih kata-kata yang tepat untuk add comment di blognya yang terasa wingit.  Anehnya, saya tak pernah merasa terganggu dengan wibawanya ini.  Bagi saya dia adalah seorang guru.  Meski menakutkan tapi tidak untuk ditakuti.  Alhasil, yang hadir adalah sebuah bentuk kerinduan yang sulit tergambarkan.

Dua tahun lalu, ketika internet menjadi sedemikian mudah dan (murah), saya mulai sering berlama-lama didepan layar monitor untuk browsing dan mengenal lebih jauh mahluq yang bernama internet.  Dari melihat gambar, membaca berita, download software sampai  chatting dengan yahoo messenger maupun mirc.  Pada suatu hari, lacakan saya berhenti pada sebuah halaman yang menampilkan Wayang Kulit dengan format MP3.  Blog itu adalah Wayang Prabu.

Sejak itu saya tak pernah lepas dari halaman itu setiap kali browsing.  Hanya itu dan hanya disitu.  Komputer dan software yang saya pakai tidak memungkinkan untuk tugas multi tasking.  Sehingga  Blog Wayang Prabu khatam saya jelajahi.  Semua!  Bahkan sampai komentar-komentar yang masuk telah saya baca.

Ketika itu Ada 3 Judul Narto Sabdho, 3 Judul Anom Suroto, 18 Judul Basiyo, 7 Judul  Kartolo, Puluhan lagu Rhoma Irama dan Lagu Jadul yang lain.  Saya berfikir,  bagaimana mungkin ada orang yang mau secara sukarela mengupload begitu banyak file ke server berbayar.  Mulia betul hatinya.  Tak ada sedikitpun iklan disana. Tak seperti blog yang biasa saya temui.  Saya arahkan ke halaman” Abaut”.  Satu motto yang tegas  dikatakan oleh empunya blog: Bahagia bisa berbagi!!! Dan ditiap komentar yang menyanjungnya, selalu dijawabnya dengansebuah doa agar dirinya senantiasa istiqomah.

Gemetar saya mencoba untuk menuliskan sesuatu di bilah komentar yang disiapkan.  Esoknya, dengan berdebar saya mebuka halaman yang sama.  Mak clesss……… begitu saya menerima  balasannya.  Sejak itu saya makin berani dan makin berani.  Akhirnya jadilah saya komunitas yang rutin mengisi daftar buku tamunya.  Tak satu postinganpun yang lepas dari jamahan saya.

Empat bulan berjalan.  Lalu mak pet!!! Blog itu tak lagi bisa diakses.  Saya merasa sangat kehilangan.  Segala upaya saya tempuh untuk bisa menemukan blog itu kembali tapi tak pernah berhasil.  Barulah saya tahu bahwa persinggahan saya yang indah itu telah di blokir oleh WordPress.  Ada saya mampir di beberapa blog lain, tapi tak satupun yang menjawab ketika saya uluk salam ingin masuk.  Jadinya saya seperti nonton TV dirumah tetangga waktu kecil dulu.  Saya bisa menonton tapi tak bisa menikmati.

Ketika Blog barunya mulai diperbaiki dengan nama Prabu Wayang, saya merasa menemukan kembali tempat persinggahan.  Bahakan saat saya berniat menyumbangkan file Ketoprak dan Wayang, diluar dugaan Mas Prabu justru menyuruh saya untuk memposting sendiri.  Seperti belajar sepeda, dia membiarkan saya berulangkali jatuh sampai tanpa terasa kaki saya terangkat dari tanah dan menempel di pedal sepeda.  Tak terasa pula sepeda itu mulai berjalan.  Lalu, dengan sabar dia memberikan arahan bukan pada cara naik sepeda, tetapi juga cara memperbaiki sepeda.

Entahlah, tiba-tiba kerinduan saya kepadanya tiba-tiba menyeruak.  Jika saya mengenalnya pasti akan saya hubungi dia.  Tapi karena tak ada sarana menemuinya, maka postingan saya kali ini saya persembahkan kepadanya.

Salam sejahtera untuk Mas Prabu.  Semoga sehat sejahtera dan rukun bersama keluarga.  Bahagia bisa berbagi dan tetaplah istiqomah!!!

Berikut ini adalah Rumah Mas Prabu yang saya sering “klesetan” disana sembari menunggu suguhan yang terasa selalu “fresh”

  1. Bumi Prabu
  2. Bumi Prabu Multiply
  3. Bumi Prabu Dunia Wayang
  4. Bumi Prabu Video
  5. Bumi Prabu Vodpod
  6. Mengenang Ki Nartosabdho
Oleh: galuh | 5 Februari 2010

Ki H Anom Suroto, Semar mBangun Kayangan

Lakon ini seakan merupakan “lakon wajib” bagi dalang untuk membawakannnya.  Disamping menarik, lakon ini memberikan pesan moral yang gampang dimenerti kendati mengandung nilai-nilai filosofis “khas kejawen”.  Hampir semua dalang pernah membawakan cerita ini dengan versi dan kreativitas masing-masing, tak terkecuali Ki H Anom Suroto.  Oleh karena itu lakon ini banyak dikenal oleh masyarakat pecinta wayang kulit.

Dari sampul kaset dan ijin produksinya, kaset ini direkam pada tahun 1985, Duapuluh lima tahun atau seperempat abad sudah Ki H Anom Suroto membawakan cerita ini.  Akan tetapi ketika saya mendengarkan sembalri mengconvert cerita ini, terasa masih sangat segar ide-ide yang dilontarkan olehnya.  Hanya saja, mendengarkan wayang akan lebih sangat menarik apabila dikaitkan dengan suasana aktual yang terjadi pada masa itu.

Mendengarkan cerita ini, seakan kita dibawa pada suasana dimana Negara Indonesia masih “ayem tentrem” tanpa gejolak baik politik, ekonomi maupun sosial (tentu saja  dalam pengertian praktis, bukan subsatnsi).  Pesan-yang ada didalam dialog antar tokoh sepanjang pagelaran, tak menggambarkan adanya “kegundahan” hati masyarakat Indonesia.  Tak ada century, tak ada kerusuhan, tak ada pemakzulan, tak ada debat politik, tak ada perang media.  Pendeknya, yang  tergambar dalam angan-angan adalah nonton wayang ditengah kehidupan warga masyarakat yang rukun, ayem tentrem dan tanpa rasa curiga mencurigai.  Kesulitan ekonomi yang dihadapi punakawan dalam adegan goro-goro menunjukkan kewajaran, bukan ketakutan.  Ahh, ini kok malah ngelantur……………..

Diceritakan, bahwa untuk kepentingan “mbangun kayangan” , Ki Lurah Semar bermaksud meminjam Jamus Kalimasada kepada Prabu Puntadewa. Oleh karena itu, dia mengutus Petruk untuk menghadap Sang Prabu guna menindak lanjuti rencana tersebut.  Pada saat yang sama Pendita Durna dan Patih Sakuni menyampaikan pesan  sebagai utusan Prabu Duryudana, untuk _juga- meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana memulihkan “dahuru” yang menimpa Kerajaan Astinapura.

Tentu saja, Prabu Puntadewa menjadi “ewuh aya ing pambudi” kepada siapa Jamus Kalimasada akan dipinjamkan.  Prabu Kresna yang berada di pasewakan karena diundang Prabu puntadewa, mengambil langkah bijak agar masing-masing menunggu di alun-alun, sementara keputusan akan dimusyawarahkan terlebih dahulu.  Kresna pergi ke Kahyangan Jonggring Saloka guna menghadap Betara Guru agar diberikan petunjuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara yang tepat.  Sambil menunggu kedatangan Sri Kresna, Prabu Puntadewa menemui para utusan dan memberikan syarat bagi siapapun yang bermaksud meminjam Jamus Kalimasada, yaitu berupa “Kembang Turangga Jati”.  Siapapun, baik Semar maupun Duryudana bisa membawa Jamus Kalimasada asalkan berhasil memetik  “Kembang Turangga Jati”.

Tak elok, jika saya menceritakan sampai tuntas lakon ini kepada anda, karena tujuan saya adalah mengajak anda untuk ikut menikmati suasana ketika Lakon ini direkam / dipentaskan.  Sekali lagi, kendati saya sangat yakin anda sudaj hafal dengan cerita ini, tapi mendengarkan wayang bukan saja bertujuan untuk mengetrahui akhir dan jalannnya cerita tetapi juga menggali pesan moral yang terkandung didalamnya, selain tentunya sebagai “lelangen wardaya”, makanan jiwa!

Selamat menikmati…………………..

  1. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _01_a
  2. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _01_b
  3. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _02_a
  4. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _02_b
  5. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _03_a
  6. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _03_b
  7. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _04_a
  8. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _04_b
  9. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _05_a
  10. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _05_b
  11. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _06_a
  12. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _06_b
  13. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _07_a
  14. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _07_b
  15. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _08_a
  16. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _08_b
Oleh: galuh | 3 Februari 2010

Wayang Orang MP3, Srikandi Wuyung

Semula, muncul keraguan pada diri saya apakah kira-kira saya telaten mendengarkan Wayang Wong yang duapuluh tahun lalu sering saya dengarkan sambil lalu dari radio.  Ketika itu, selain kethoprak dan sandiwara radio, Wayang Orang menjadi salah satu alternatif hiburan yang menghiasi gelombang radio.  Sejujurnya, ketika itu saya tidak bisa disebut menyukai siaran Wayang Orang.  Saya mendengarkan siaran ini karena pakdhe saya selalu mendengarkan acara ini dan saya tak punya pilihan lain, karena hanya ada 1 radio ketika itu.  Oleh karena itu ketika saya menemukan kaset ini, saya tidak yakin apakah saya “mampu” mendengarkan.

Akan tetapi diluar dugaan, ketika saya mulai mendengarkan Srikandi Wuyung sembari mengconvert ke format digital, saya menemukan suatu rasa yang sulit saya gambarkan yang bermuara pada satu kesimpulan; saya menyukai wayang orang  (barangkali faktor usia penyebabnya).  Akhirnya, niat saya untuk menutup volume saya urungkan.  Saya mendengarkan cerita ini sampai tuntas, nikmat sekali!

Cerita ini dimulai dengan ungkapan kesedihan Prabu Drupada, Raja Pancalaradya memikirkan putrinya Wara Srikandi yang sakit ingatan.  Atas upaya Raden Dwastajumpena, Srikandhi di sembuhkan dengan Sekar Wijaya Mulya.

Sementara itu, dalam perjalanannya Bambang Pamularsih sebagai utusan Prabu Harjunadi, Raja Gajahoya mencari Kembang Turangga Jati sebagai sarana meneteramkan negaranya, dia bertemu dengan pendhita raksasa bernama Begawan Kalapadnaba dari pertapaan Giri Kembang.  Ketika itu Kalapadnaba dalam perjalanan memenuhi permintaan adik perempuannya yang berkeinginan untuk mendapatkan momongan (anak angkat) satriya bagus.  Dalam amatan  Kalapadnaba, Bambang Pamularsih memenuhi persyaratan bagi keinginan adiknya itu.  Bambang Pamularsih menolak, tapi apa daya Kalapadnaba adalah raksasa yang sakti, sehingga dengan mudah bisa dikalahkan dan di boyong ke Giri Kembang.

Bagaimana kelanjutan cerita ini, silahkan anda bernostalgia dengan Wayang Orang RRI Surakarta, Surakarta dalam cerita Srikandi Wuyung dengan dukungan pemain :

  1. Srikandhi: Darsi
  2. Prabu Drupada: Hardjawibaksa
  3. R. Dwastajumpena : Suroto
  4. Patih Dwastacandra : Suparto
  5. R. Pamularsih : Tanti
  6. Begawan Kalapadnaba: Rusman
  7. Endang Turanggajati : Kristinah
  8. Harjunadi : Suratmi
  9. Sri Kresna : Sutarto
  10. Carangsusena : Ranawibaksa
  11. Semar : Suwandi
  12. Gareng : Padmawibaksa
  13. Petruk : Surono
  14. Emban : Suratmi
  15. Swarawati : Tukinem
  16. Dalang : Rototjarito
  17. Sutradara : Surono

File download MP3 Wayang Orang Srikandi Wuyung

  1. Srikandi Wuyung_1a
  2. Srikandi Wuyung_1b
  3. Srikandi Wuyung_2a
  4. Srikandi Wuyung_2b
Oleh: galuh | 1 Februari 2010

Guyon Maton Mp3

Pada dekade 90an, ketika dimulai era global banyak seni dari luar negeri (baca: barat) menggelontor negeri ini.  Dimulai dari seni tari ( ingat: break dance, flash dance), film dan musik menggelegak ditengah seni  tradisional yang makin terpinggirkan.  Pentas-pentas kethoprak mulai sepi penonton, wayang orang mulai ditinggalkan dan tari pethilan (bahkan yang berlabel tari kreasi baru)pun sudah jarang ditemukan.  Para seniman dan pelaku seni pada umumnya sudah mulai banting setir untuk mencari sumber penghasilan baru diluar spesialisasinya.  Benar-benar terasa keterpurukan seni  tradisional ketika itu.

Disaat sulit semacam itu, bagai oase, Surono, Nanik Ramini, Darsi, Rusman dan banyak tokoh WO Sriwedari Surakarta pada waktu itu, membuat terobosan dengan menampilkan Guyon Maton, sebuah bentuk “lawak gaya baru” dengan tetap mengedepankan unsur hiburan tanpa terlalu jauh menyimpang dari “pakem”.  Ketika itu jenis lawak ini banyak ditampilkan pada acara hajatan seperti  mantu, khitanan dsb dengan sebutan Guyon Maton Lesmana Wuyung.

Disebut demikian karena tokoh / lakon yang ditampilkan adalah R. Lesmana (putra Raja Astina, yang idiot itu) berdialog dengan emban dan tokoh lain dalam rel “dhapukan” wayang orang.  Meski demikian, Guyon Maton Lesmana Wuyung ini, tidak selalu menampilkan tokoh Lesmana tetapi juga Ki Lurah Petruk.  Intinya adalah berupaya menampilkan “dagelan” yang lebih halus dibanding “lawak modern”  tetapi tak harus mengernyitkan kening semacam Langendriyan Bancak Doyok.

Ketika itu, Guyon Maton Lesmana Wuyung  sempat menyita perhatian banyak pecinta seni.  Para seniman Wayang Orang dan Kethoprak yang sepi order, dapat mengais rejeki sambil mengespresikan jiwa keseniannnya melalui jenis pentas ini.  Sayapun sempat  punya kesempatan dan pengalaman langsung serta menerima “tanggapan”  guyon maton di dibeberapa tempat, tentunya sesuai dengan kapasitas saya sebagai seniman ajaran.

Saya tidak ingat, kapan Guyon Maton Lesmana Wuyung (baca: Guyon Maton) ini mulai sepi dari berbagai pentas hajatan.  Yang pasti, sekarang pantas sejenis itu praktis tak bisa kita temukan.  Sekarang pada hajatan mantu dsb, orang lebih suka menoleh ke Organ Tunggal, Dangdut dan Campursari (yang -maaf- sudah kehilangan arah).  Saat ini (dibeberapa tempat, tentu) penyanyi  cantik, iringan / musik yang cenderung  gayeng dan MC yang pintar nyerempet “daerah hitam” dengan berdialog dengan penyanyi, menjadi alternatif.

Ketika tengah  “ngolak-alik” kaset bekas di pasar loak minggu kemaren,  beberapa judul Guyon Maton saya temukan dengan kondisi  “sangat mengenaskan”.  Sampulnya sudah kusam, kemasannya sudah pecah disana sini.  Kemudian di bagian dalam, pitanya sudah mbundhet total dan ditautkan melingkar begitu saja di tubuh kasetnya.  Ganjel gabus yang menjadi nyawa menkanik kaset sudah tidak ada lagi.  Ada empat kaset dengan kondisi yang tak jauh berbeda.

Terdorong rasa ingin berbagi, Rp. 500 saya bayarkan pada Mas Agus untuk kaset itu.  Kemudian dengan penuh keyakinan saya lakukan perbaikan dengan metode kanibalisme :) .  Satu kaset saya bongkar, kemudian peralatan yang ada didalamnya saya pasangkan untuk memutar kaset yang lain.  Begitu selesai, pita dikaset kedua saya pasangkan untuk saya putar dan convert.  Demikian setelah seharian empat kaset selesai  juga.  Dan setelah yakin terhadap hasil convert yang telah saya lakukan.  Maka dengan penuh khidmad, kaset pita seharga Rp. 500 itu saya buang. Wussss………..

Nah, untuk mengenang Guyon Maton sekaligus melihat hasil perjuangan saya, berikut ini saya persembahkan beberapa judul Guyon Maton untuk anda!

  1. Guyon Maton, Petruk Godril (Surono – Darsi)_A
  2. Guyon Maton, Petruk Godril (Surono – Darsi)_B
  3. Guyon Maton, Nawangwulan (Waldjinah)_A
  4. Guyon Maton, Nawangwulan (Waldjinah)_B
  5. Guyon Maton, Lesmana Godril (Surono – Darsi)
  6. Guyon Maton, Petruk Dadi Dalang (Surono – Darsi)
  7. Guyon Maton, Janaloka Gandrung (WO Sriwedari)
Oleh: galuh | 26 Januari 2010

Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha

Masih dari sequel Seri Majapahit.  Coba anda simak kembali Seri Majapahit dalam Episode Geger Wilwatikta. Diakhir cerita itu, pemberontakan Kuti dan Semi sudah merangsek ke Puri Wilwatikta.  Tujuan utamanya adalah untuk menyeret Patih Mahapati Halayudha karena telah menjebak Semi dengan mengumpankan isterinya untuk merselingluh dengan Semi.

Karena keadaan sudah semakin genting dan tak terkendali, maka Bekel Dipa berinisiatif untuk mengungsikan Prabu Jayanegara keluar Puri Wilwatikta dengan menyamar sebagai rakyat Jelata.  Karena baginya Prabu Jayanegaralah satu-satunya simbol Kekuasaan Majapahit yang masih bisa dipertahankan. Yang membuktikan bahwa Majapahit masih berdaulat.

Seperti anda ingat ketika masih bersekolah di SD, Prabu Jayanegara diungsikan ke Desa BedanderKi Buyut Bedader menerima Bekel Dipa dan Prabu Jayanegara dengan  senang hati dan penuh rasa hormat.  Sementara itu, Bekel Dipa kembali ke Ibukota Majapahit untuk mencari informasi tentang keadaan rakyat dan punggawa keraton sekaligus mengetahui tingkat kesetiaan mereka pada Sri Jayanegara.  Setelah yakin bahwa dukungan rakyat dan punggawa pada Prabu Jayanegara masih sangat tinggi, maka Bekel Dipa segera mengambil langkah untuk mengembalikan symbol kekuasaan Majapahit, Sri Jayanegara, ke singasananya.

Langkah atau tindakan apakah yang diambil Bekel Dipa? Bagaimanakah kelanjutan upaya pemberontakan Rakyan Kuti dan Rakyan Semi? Bagaimana nasib Mahapati si penjilat itu?

Jawabnya dapat anda ketahui setelah tuntas mendengarkan Cerita Bekel Dipa Winsuda yang dimanikan dengan cemerlang oleh Keluarga Kethoprak Mataram Kodam IV Diponegoro di bawah pimpinan Bagong Kussudiharjo dengan dukungan pemain handal  dan sutradara ketoprak bertangan dingin, Bondan Nusantara.

  1. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_01_1
  2. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_01_2
  3. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_01_3
  4. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_01_4
  5. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_02_1
  6. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_02_2
  7. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_02_3
  8. Seri Majapahit, Bekel Dipa Winisudha_02_4
Oleh: galuh | 20 Januari 2010

MP3 Kethoprak Mataram, RATU KIDUL

Cerita ini akan lebih tepat disebut sebagai Lakon Banjaran, karena menceritakan awal keterlibatan Ratu Kidul dalam sejarah panjang Mataram yang –konon- dari Jaman Panembahan Senapati Ing Alaga Paneteg Panatagama Kalipatulah Ingkang Jumeneng Angka I atau yang lebih dikenal sebagai Panembahan Senapati atau Sutawijaya.  Konon juga, terjadi komitmen antara Ratu Kidul dengan Sutawijaya, bahwa dia (Ratu Kidul) akan membantu raja-raja Mataram hingga kencar-kencar turun maturun.

Terlepas dari masalah benar dan salah, sungguh merupakan hal menarik yang tak habis dikupas apabila menceritakan mitos tentang Ratu Kidul.  Seorang puteri cantik keturunan bidadari yang menjadi Ratu Lelembut di Laut Selatan menjalin cinta dengan Raja Mataram bukan hanya untuk Sutawijaya sendiri tetapi juga anak turunnya, sampai saat ini.  Banyak tempat yang di anggap wingit dan dikeramatkan.  Mulai dari Pantai Parangtritis sampai dengan Hotel Ambarukma dipercaya mempunyai kaitan langsung dengan Legenda Ratu Kidul.  Banyak refernsi tentang Ratu Kidul yang bisa anda lihat, diantaranya disini http://cabiklunik.blogspot.com/2009/12/seminar-ratu-kidul-mitos-yang-tak-akan.html (Untuk Mas Ardus M Sawega, mohon ijin link)

Cerita ini dimulai dari ketidak puasan Ki Pemanahan dan Ki Panjawi tentang niat Hadiwijaya untuk memberikan tanah Alas Mentaok kepada Sutawijaya sebagai hadiah setelah berhasil meredam pemberontakan Adipati Jipang, Arya Penangsang.  Sampai waktu yang dirasa cukup pantas sebagai toleransi, Hadiwijaya tak juga merealisasikan janjinya.  Maka atas dorongan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, Sutawijaya segera melakukan babad Alas Mentaok untuk didirikan sebagai tanah perdikan.

Kegiatan Sutawijaya ini ternyata mengganggu para jin anak buah Ratu Kidul yang berada disitu.  Akibatnya, pasukan Sutawijaya menghadapi banyak hambatan yang memaksanya bertapa guna mengusir roh halus yang mengganggu kegiatan Babad Alas Mentaok.  Bertapanya Sutawijaya ternyata membuat geger Keraton Laut Selatan dan lokasi tempat pertapaan Sutawijaya menimbulkan cahaya terang yang memancar hingga singasana Ratu Kidul.

Kanjeng Ratu Kidul sangat marah dan berniat menemui Sutawijaya.  Tapi setelah bertemu dengan calon raja Mataram itu, luluhlah hatinya.  Bukan marah yang diterima Sutawijaya tetapi justru cinta dan pengabdian Kanjeng Ratu Kidul kepadanya bahkan sampai anak turunnya di kemudian hari.

Komitmen Kanjeng Ratu kidul ini dibuktikan ketika dalam lakon ini juga diceritakan ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma atau Hamengkubuwana III   (berarti cucu Sutawijaya) berniat menyerang Batavia. Lakon ini tak hendak menceritakan perjalanan panjang Sutawijaya dan raja-raja Mataram yang lain, tetapi lebih menekankan pada keberadaan ratu Kidul sebagai Permaisuri raja Mataram dari waktu ke waktu.

Selengkapnya, kami persilahkan anda menikmati alur cerita serba ringkas tentang Ratu Kidul oleh Keluarga Ketoprak Mataram Kodam VII Diponegoro, pimpinan Bagong Kussudihardjo dengan dukungan pemain hebat yang tentu akan membangkitkan kenangan anda pada kejayaan seni kethoprak.

  1. Ratu Kidul 1-1
  2. Ratu Kidul 1-2
  3. Ratu Kidul 1-3
  4. Ratu Kidul 1-4
  5. Ratu Kidul 2-1
  6. Ratu Kidul 2-2
  7. Ratu Kidul 2-3
  8. Ratu Kidul 2-4
  9. Ratu Kidul 3-1
  10. Ratu Kidul 3-2
  11. Ratu Kidul 3-3
  12. Ratu Kidul 3-4
  13. Ratu Kidul 4-1
  14. Ratu Kidul 4-2
  15. Ratu Kidul 4-3
  16. Ratu Kidul 4-4
Oleh: galuh | 13 Januari 2010

Ketoprak Wahyu Manggala, Babad Kajen, Pati

Secara tak terduga, Mas Sutamto Totok dari Pati satu dari sedikit pendidik kita yang concern terhadap dunia IT disamping tetap konsisten nguri-uri budaya dan seni jawa, memberikan link untuk sebuah lakon yang seringkali ditanyakan banyak rekan, yaitu BABAD KAJEN.  Kiriman ini menjadi semakin menarik manakala group kethoprak yang membawakannnya adalah Wahyu Manggala, salah satu yang terbaik di Pati dan sekitarnya.  Lebih menggembirakan lagi, Mas Sutamto Totok memberikan link tersebut, sekaligus menuliskan sinopsisnya. Wuihhh!!!

Daripada mbalung jagung langsung saja file dan sinopsis itu, saya persembahkan untuk anda nikmati.

BABAD KAJEN, PATI

oleh : Sutamto Totok

Ahmad Mutamakkin hidup dan berkiprah pada masa Pemerintahan Kerajaan Solo – antara tahun 1719-1749 dan mengalami dua macam penguasa yaitu Amangkurat IV dari Kartasura dan Pakubuwono II di Surakarta. Beliau terlibat dalam perdebatan seru ketika diadili oleh Katib Anom, semacam menteri agamanya, Amangkurat IV.

Pemeriksaan pandangan-pandangan beliau oleh Katib Anom, yang notabene cucu Sunan Kudus, direkam dalam sebuah tembang Kraton yang berjudul Serat Cebolek. Serat atau risalah (arab) yang menggunakan bahasa Sastra Jawa tingkat tinggi itu ditulis oleh Raden Ngabehi Yasadipura I (sebagai orang Kraton).

Serat itu mengisahkan tentang seorang kyai mistik pengikut teori “Wahdatul Wujud” (kesatuan wujud), yakni Kyai Mutamakkin. Pandangan kiai ini dianggap sebagai “gangguan” oleh penguasa resmi di Keraton Surakarta, yang dalam hal ini diwakili oleh Katib Anom. Terjadilah pengadilan atas Kyai Mutamakkin yang juga dikenal sebagai Kiai Cebolek itu. Salah satu tuduhan yang diarahkan kepadanya adalah kegemarannya untuk menonton wayang kulit, terutama dengan lakon Bima Sakti / Dewa Ruci

Babad Kajen_1
Babad Kajen_2
Babad Kajen_3
Babad Kajen_4
Babad Kajen_5

Admin: Mewakili rekan-rekan sutresna budaya seni kethoprak, saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Sutamto Totok atas berkenannnya membagi link sekaligus memberikan sinopsis lakon Kethoprak Babad Kajen oleh Group Kethoprak Wahyu Manggal.  Ditunggu untuk cerita dan file-file selanjutnya……

Untuk http://pendekarjawa.wordpress.com/serat-cebolek/ terima kasih dan mohon ijin link Serat Cebolek.

Oleh: galuh | 12 Januari 2010

MP3 Ketoprak Mataram: RAMINTEN EDAN

Ketika membaca judul itu di toko kaset, hampir saja saya salah duga pada Lakon Suminten Edan.  Raminten Edan adalah lakon dengan setting yang bener-benar berbeda.  Jika Suminten Edan berlatar belakang akhir jaman Majapahit menuju ke Jaman Islam di daerah Ponoroga, sedang Raminten Edan merupakan sequel dari lakon Sunan Katong yang berlatar belakang daerah Kendal .  Tentang Sunan katong, dapat anda baca disini http://pa-ardhiwana.blogspot.com/2008/08/sunan-katong-dan-pakuwojo-asal-usul.html (terima kasih untuk artikelnya).

Sulit sekali saya menangkap pesan yang tersirat dari cerita itu.  Tapi dengan sedikit penalaran yang sederhana barangkali pesan yang ingin dalam cerita tersebut adalah ungkapan sabar dan narima. Keinginan jika tidak dilandasi oleh kebutuhan, akibatnya manusia akan diburu oleh keserakahan.  Pesan lain adalah “not the gun, but the man behind the gun”.  Yang penting bukan senjata, tetapi orang berada di belakang senjata itu.  Artinya seampuh  apapun sebuah senjata apabila dioperasikan oleh orang yang salah maka senjata itu tak lebih darisekadar kerajinan tangan.  Lebih buruk lagi, senjata memiliki aura dan daya linuwih.  Sehingga, bagi yang tidak kewahyon (mendapatak wahyu), sebuah senjata justru akan menimbulkan malapetaka.

Tersebutlah, seorang empu hebat bernama Pakuwaja yang tinggal di dukuh Getas yang masih dibawah kasunanan Ampel Gading menerima pesanan untuk membuat duplikat sebilah keris sakti bernama Keris Sabuk Inten dari Sunan Katong, penguasa Kasunanan Ampel Gading.

Kesaktian  keris Keris Sabuk Inten ternyata telah mebutakan mata Empu Pakuwaja sehingga muncul nafsu serakahnya.  Ia membuat dua duplikat Keris Sabuk inten yang setelah selesai dikerjakan, keduanya diserahkan kepada Sunan Katong sebagai keris asli dan keris duplikat.  Sedang Sabuk Inten yang sebenarnya disimpan untuk di kuasai oleh Empu Pakuwaja.

Dari sinilah cerita ini dimulai.  Saya mengira Empu Pakuwaja tidak kuat kadunungan Keris Sakti Sabuk Inten tersebut sehingga aura panas yang ditimbulkan oleh keri itu menyeret Empu Pakuwaja pada masalah yang membawa korban  jiwa.  Dimulai dari ulah anak perempuannya, Raminten yang jatuh cinta pada calon kakak iparnya Joko Tuwung yang sedianya akan menikah dengan kakak perempuan Raminten, Surati.

Terdorong oleh amarah yang tak terkendalikan, Empu Pakuwaja berniat membunuh Raminten yang dianggapnya telah membuat malu keluarga.  Karena rasa takut pada sang Ayah, sementara rasa cintanya yang tak sampai kepada Joko Tuwung, menjadikan Raminten hilang ingatan dan kabur dari rumah.  Bahkan, kakak perempuan Pakuwojo harus mati  oleh Keris Sabuk Inten ketika bermaksud meredakan amarah Empu Pakuwojo.

Bagaimana Nasib Raminten selanjutnya dan bagaimana pula rencana pernikahan Joko Tuwung dengan Surati? Banyak hal menarik akan terungkap apabila anda mendengarkan Lakon Ketoprak ini secara lengkap.  Nah, untuk mengurangi rasa penasaran anda kami persilahkan untuk mengunduh file Raminten Edan oleh Keluarga Kethoprak Mataram Kodam VII Diponegoro dengan dukungan pemain yang sanagt menjiwai peran masing-masing.  Selamat menikmati

Klik Untuk Download Raminten Edan

Oleh: galuh | 11 Januari 2010

(Masih) Tentang Junaedi CS

Sungguh, tidak gampang mencari referensi tentang pelawak yang satu ini.   Padahal Junaidi telah memberikan warna pada perkembangan dagelan (Mataram) yang pada waktu itu vakum setelah era Basiyo.  Bersama Buang dan Jambul, Junaedi membentuk kelompok Junaedi CS dengan gebrakan pertama Junaedi Dalang  Internasional yang disusul Junaedi Dalang Internasional II dan judul-judul yang lain berturut-turut diluncurkan.

Secara tematis, sebenarnya Junaedi tidak ada yang baru.  Lawakannnya tidak dilengkapi dengan “cerita” sebagaimana biasa di bawakan oleh Basiyo.  Kekuatan Junaedi adalah pada spontanitas dan eksploitasi phisknya.  Mrongos dan memble adalah “trade mark” yang tak pernah lepas dari materi lawakannya.

Pada kesempatan perburuan saya dalam mencari kaset magnetik, saya menemukan 3 judul dari Junaedi dengan kualitas yang masih sangat baik yaitu Junaedi dadi Janaka, Junaedi Khotbah dan Junaedi Guru Ngaji.  Dalam rencana memposting materi tersebut, untuk dua judul saya merasa kesulitan dalam menempatkan kategori.  Semula, saya berencana menempatkan Junaedi Khorbah dan Junaedi Guru Ngaji, di Halaman Islam.  Akan tetapi dari aspek materi (tanpa sama sekali mungurangi nilai dan maknanya) saya melihat lebih dominan Lawak daripada Khotbahnya, maka saya posting semua kaset Junaedi tersebut dalam kategori Dagelan.

Nah, kami persilahkan anda untuk mengambil sarinya tanpa mengurangi hak anda untuk tersenyum.

  1. Junaedi dadi Janaka.
  2. Junaedi Khotbah
  3. Junaedi Guru Ngaji
  4. Junaedi Juru Kunci
Oleh: galuh | 7 Januari 2010

Gus Dur, Jazz, Wahyudiono dan Keindahan itu

Wahyudiono says:“minggu lalu, beberapa media menyiarkan tahlilan memperingati tujuh hari wafatnya Gus Dur.  Peringatan itu tidak hanya diikuti oleh warga muslim saja, tetapi juga oleh pemeluk agama lain. dari situ saja hati saya sudah tergetar. apalagi ada peserta beragama kong hu cu yang merasa sangat kehilangan, sampai menuliskan beberapa bait puisi, karena begitu merasa kehilangan. sementara itu gambar gambar gus dur yang tertawa lepas menyelingi acara tahlilan itu.  Saya jadi teringat sebuah lagu berjudul i’ll never see you smile again , komposisi bob james & earl klugh, albumnya sendiri berjudul one on one, beberapa pemain pendukung al. harvey mason , ron carter, eric gale, serta consert masternya david nadien , direkam th 1975 di new york.”

Begitulah komentar yang ditulis oleh sahabat saya, Wahyudiono dalam blog ini kemaren sore.   Keheranan saya pada cara telaah Wahyu terhadap musik yang beberapa waktu lalu sempat terbersit, sekarang muncul lagi.  Entah bagaimana cara dia memandang musik sehingga mengkaitkan tahlilan Gus Dur dengan i’ll never see you smile again karya kolaburasi antara Earl Klugh dengan Bob James.

Saya yang sejak lama mengagumi Gus Dur, sejauh yang saya tahu, Gus Dur sangat menyukai musik klasik.  Salah satu favoritnya adalah Symphony no 9 (Loudwig van Beethoven).  Selain itu, di dari beberapa wawancara diketahui bahwa dia (Gus Dur) juga tak pernah jauh dari klenengan dan (tentu saja) sholawat dalam berbagai versi.  Itu artinya, jika ingin melihat Gus Dur dari aspek musik, seharusnya tak jauh dari lingkaran itu.  Tapi kenapa Jazz, kenapa Earl Klugh?  Itulah Wahyudiono.  Lelaki -yang kata mas Widjanarko-: “Guedhi sanget, dimas… :)

Tentu saja saya tak mau dililit rasa penasaran. Maka segera saya membuka gudang filenya di 4shared yang kebetulan saya diberikan kunci duplikatnya.  Dua folder tersedia disana dengan Judul Earl Klugh dan Bob James yang masing masing adalah Cool dan One on One.  Satu judul lagu yang menjadi andalan dalam komentarnya segera saya download.  Meskipun idiot tentang jazz saya segera bisa menikmati keindahan komposisinya yang ditelinga saya terdengar “nglangut”.  Jika itu klenengan terasa seperti Laler Mengeng, gending dukacita itu.   Sekali lagi, saya  mencoba menajamkan telinga untuk mendengar apa kata Klugh dan James, tapi tak berhasil.  Dia tidak berkata-kata, bahkan berbisik atau bergumam.  Ini hanya rangkaian nada.

Begitulah! Jazz, cinta, senyum, keindahan yang bergumul dengan nada yang padat di tengah komposisi menawan oleh orang-orang hebat mengalir sebagai bentuk persembahan kepada sosok sehebat Gus Dur memang harga yang layak untuk dibayarkan.  Perlahan dan pasti, saya bisa memahami alur pikir Mas Wahyu yang menggunakan Earl Klugh dan Bob James untuk mengenang tokoh egaliter semacam Gus dur.  Mahal dan agak sulit, memang.  Tapi itulah harga yang seharusnya dibayar!

Masih tentang Gus Dur yang tak hilang untuk dikenang. Saya kira, Mas Wahyu akan sepakat dengan saya untuk berbagi keindahan yang dipancarkan dari album kolaburasi Earl Klugh dan Bob James.  Komposisi interrasial yang sangat menawan yang sangat cocok dipersembahkan untuk tokoh pluralisme yang demokratis dan egaliter sekelas KH Abdurrahman Wachid.

Nah, kami ingin berbagi kepada anda untuk bersama mengenag Gus Dur dengan cara berbeda.  Silahkan download dan nikmati.

  1. Earl Klugh & Bob James, Cool
  2. Earl Klugh & Bob James, One on One

Selain itu beberapa waktu lalu teman saya sempat merekam siaran Metro TV dalam acara Metro File, yang menceritakan perjalanan hidup dan perjuangan Gus Dur.  Saya tidak merasa perlu melakukan editing terhadap file itu.  Sehingga apabila anda download dan memutarnya, masih ada iklan disana.  Tapi apakah itu mengurangi nilai dan maknanya?

Juga saya sisipkan pula MP3 Sholawat Munajad dan Taussiyah oleh Gus Dur untuk kita bersama mengenang kehebatan tokoh Pluralisme ini.

  1. Rekaman Metro TV (Metro File, Gus Dur)
  2. Sholawat Munajat Al-i’tiraf  (Vocal Gus Dur)
  3. Tausiyah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
  4. Symphony no 9 (Loudwig van Beethoven)
Oleh: galuh | 6 Januari 2010

MP3 Lawak Jadul, Warkop DKI

Masih dari sahabat saya Mas Suhandoko, Denpasar. Ketika mengirmkan CD Lakon Wayang Banjaran Arjuna II (Ki Narto Sabdho), beliau menyertakan file Ludruk Kartolo dan Lawak Warkop DKI.  Untuk Ludruk Kartolo, kendati belum semuanya ada di Blog ini, akan tetapi sebagian besar sudah saya tambahkan paringan Mas Suhandoko tadi di postingan saya.  Selain itu, dalam banyak tempat anda bisa menemukan Luruk Kartolo ketika anda googling.

Saya merasa, bahwa Lawak Warkop yang disertakan Mas Suhandoko tadi terasa sangat istimewa ditengah lawak masa kini yang kering ide (kecuali Eko Patrio yang nampak sangat lucu di Senayan :) ) oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan kepada Mas Suhandoko, Denpasar. yang diantara kesibukannnya masih menyempatkan diri mengirimkan file itu kepada saya, bahkan ketika menengok ayahandanya di Sragen, beliau sempatkan untuk bertandang di gubug reyot saya. (terima kasih untuk semuanya)

Dari aspek cerita, lawak DKI kali ini tidak menunjukkan plot yang jelas bahkan boleh dikatakan tidak ada alur sama sekali.  Tatapi dari aspek ide, Warkop memberikan banyak sekali inspirasi yang (ketika itu) original, kendati humornya masih monoton pada perbedaan etnis / suku, pelesatan lagu dan eksploitasi fisik seseorang (bibir dono yang mBemo masih menjadi bahan tertawaan).

Tapi itu tak mengapa, karena hingga saat ini masih digemari.  Lihatlah, Bukan Empat Mata.  Betapa lawakan Tukul (yang konon tergolong papan atas), tak henti-hentinya mentertawakan bibir dan ketampanan wajahnya (seperti “cover boy, katanya” sebagai bahan lawakan.  Herannya, penonton masih saja tertawa sekalipun hanya itu-itu saja yang dikemas oleh Mas Tukul Arwana.

Yang menjadi aspek andalan dari postingan saya kali ini adalah nilai Jadul dan Nostalgianya.  Maka, jadilah saya mengemas Warkop DKI dalam bingkai Lawak Nostalgia.  Sekali lagi, tanpa bermaksud membandingkan Warkop DKI dengan lawak masa kini saya berharap semoga postingan saya bisa membawa anda kemasa lalu.  Ingat, lawakan Warkop ketika itu memiliki segmen yang cukup hebat, mahasiswa!

  1. Warkop DKI 1
  2. Warkop DKI 2
  3. Warkop DKI 3

Admin:

Untuk Mas Suhandoko, Denpasar. saya ucapkan terima kasih atas semua dedikasinya.  Kami semua menunggu judul-judul lain dari anda…………… Salam.

Membaca judul posting diatas, nampaknya tidak terlalu sulit bagi anda untu menebak setting dan frame dari cerita ini.  Sumpah Palapa adalah sumpah yang diucapkan Mahapatih Gajahmada dihadapan Rakyat Majapahit dan Ratu Tri Buwana Tungga Dewi.

Bekel Dipa (nama Patih Gajahmada ketika itu) bersumpah “tan amukti palapa” sebelum mempersatukan nusantara.  Sebuah sumpah yang menggetarkan dunia yang bukan hanya behenti di mulut tetapi juga diaplikasikan dalam ekspansi Majapahit ke segal;a penjuru hingga mencapai jaman keemasannya.  Tapi, tahuklan anda bahwa dibalik Sukses Gajahmada, diawali dengan intrik dan skandal dilingkungan istana, yang bukan hanya menghambat tetapi kadangkala menjadi sandungan bagi upaya mempersatukan nusantara.

Dimulai dengan pertemuan Nyi Ra Tanca, perempuan cantik isteri Rakyan Tanca, tabib pribadi Prabu Jayanegara dengan Sang Baginda.  Kedatangannya ini pada awalnya atas perintah Rakyan Tanca untuk menyerahkan obat / jamu kepada baginda.  Sayangnya, ketika melihat kemolekan Nyi Tanca, Prabu Jayanegara tak bisa menahan diri dan hasratnya.  Dilain fihak, Nyi Tanca merespon hasrat sang Baginda hingga terjadi perselingkuhan diantara mereka.

Celakanya, ketika pulang Nyi Rapanca menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang suami.  Aneh, memang.  Jika pada awalnya dia melakukan perselingkluhan dengan Jayanegara tanpa ada paksaan, tetapi kemudian melaporkan hal ini kepada suaminya. Tentu saja hal ini membakar amarah Rakyan Tanca yang sejak awal sudah kecewa dengan kebijakan Prabu Jayanegara yang mengangkat Bekel Dipa sebagai Mahapatih Majapahit.

Bagaimanakah kelanjutan Kisah perselingkuhan Jkayanegara dengan Nyi Rapanca?  Tindakan apa yang diambil Rapanca atas pengaduan isterinya?  Apa dan bagaimana sikap Gajahmada selaku Patih Kerajaan Majapahit? Dan masih banyak pertanyaan lain yang yang tak akan terjawab kecuali jika anda mendengarkan secara lengkap cerita ini yang dibawakan dengan nyaris sempurna oleh Keluarga Kethoprak Mataram Kodam IV Diponegoro, dengan dukungan pemain:

  • Sri Jayanegara : Marijo
  • Gajah Mada : Budi Wiryawan
  • Patih Mahapati Halayuda : Slamet T
  • Rakyan Kembar : Sugiyarto
  • Rakyan Tanca : Mugiharjo
  • Nyai Tanca : Hendrawati
  • Bekel Liwang : Ngabdul
  • Bekel Liwung : Darsono
  • Tri Buwana Tunggadewi : Kadariyah
  • Abdi : Endhang
  • Pengalasan : Ing Wahono
  • Prajurit Sadeng : Bondan Nr, Slamet T
  • Karawitan : Waliko, dkk
  • Sutradara : Bondan Nr
  • Pengarah Acara : Mulyanto S.Kar

DOWNLOAD KETHOPRAK MATARAM, SUMPAH PALAPA

  1. Seri Majapahit, Sumpah Palapa 1.1
  2. Seri Majapahit, Sumpah Palapa 1.2
  3. Seri Majapahit, Sumpah Palapa 1.3
  4. Seri Majapahit, Sumpah Palapa 2.1
  5. Seri Majapahit, Sumpah Palapa 2.2
  6. Seri Majapahit, Sumpah Palapa 2.3
Oleh: galuh | 30 Desember 2009

Gus Dur, Satriya Pinandhita Itu Telah Pergi

Tentunya merupakan sebuah kesengajaan kalau kemaren 29 Desember 2009 saya memposting Lakon Wayang DURNA GUGUR, yaitu untuk menghormati Mas Jarot Riyanto yang telah mengirimkan file itu kepada saya beberapa waktu sebelumnya. Tetapi jelas bukan sebuah kesengajaan kalau Mas Widjanarko Bbkb memberikan komentar atas postingan saya lewat facebook pada 30 Desember jam 18:34 dengan ucapan Inalilahi………………………..dipun sarek aken jam pinten nggih?.

Tetapi, jika pada Hari Rabu, 30 Desember 2009 jam 18.45 terdengar Berita Gus Dur Meninggal Dunia, saya merasa bahwa postingan saya yang berjudul DURNA GUGUR seakan merupakan sebuah sasmita.  Kebetulan-kebetulan yang terjadi antara saya, mas Jarot dan Mas Widj seakan sebuah isyarat akan “Gugurnya Gus Dur (na)” satriya pinandhita yang mahasakti yang telah meletakkan dasar-dasar demokrasi dan kebebasan berpendapat di negeri ini.

Sebagaimana Pendhita Durna, Gus Dur adalah seorang ksatriya sekaligus seorang ulama.  Sebagai seorang pendhita, Begawan Durna telah mengabdikan seluruh tenaga dan fikiran untuk memajukan bangsanya.  Durna telah mencetak kesatriya besar yang mampu mengukir sejarah.  Bima, misalnya.  Dengan Titra Prawita Mahening Suci nya mampu bertemu dengan sejatinya sehingga bisa manunggal antara dirinya dengan Sang Khalik. Ini adalah campur tangan Pendhita Durna.  Lalu, Arjuna yang menjadi ksatriya besar dan menjadi lantaran turunnnya wahyu ratu adalah sosok murid kesayangan Pandhita Durna.  Tak hanya itu, di Perang Baratayuda, kendati dikenal sebagai seorang Pendhita, Durna adalah seorang Senapati yang dengan Gelar Perang Cakrajuhanya mampu menciutkan nyali prajurit amarta.  Maka diakhir cerita Durna Gugur –seperti Bhisma- Gugurnya Pendhita Sokalima ini menjadikan hujan tangis baik bagi Kurawa maupun Pendhawa.

KH Abdurrahman Ad Dakhil bin Wachid Hasyim, mantan Presiden RI ke IV itu telah berupulang dan Indonesia berduka.  Sang Satriya Pinandhita itu telah tiada.  Sebagaimana dilansir oleh vivanews http://nasional.vivanews.com/news/read/117370-gus_dur_meninggal_di_depan_sby Gus Dur neninggal diahadapan Presiden Sulsilo Bambang Yudhoyono, sungguh dramatis.  Sempurnalah perannnya sebagai Satriya Pinandhita, Guru Bangsa yang dikagumi bukan saja di Indonesia tetapi juga di dunia.

Terlalu banyak yang bisa digali dari sosok hebat ini.  Akan tetapi satu hal yang tak  bisa hilang dari Gus Dur adalah kemampuannnya membuat joke yang segar, intelek dan menghibur.

Nah, untuk mengenang sosok hebat ini, berikut saya kutipkan beberpa joke yang konon original bersumber dari Gus Dur.

Selamat Jalan Gus Dur, Semoga Allah SWT menerima semua amal bhaktimu

Masih tentang Gus Dur

HUMOR A’LA GUS DUR

Siapa yang paling berani

GusDur: Kopral ke sini kamu … (setelah dayang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?
Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …)
Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! …

Sate babi

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?a
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi! (//mbs)

Sumber : Okezone.com, Selasa, 1 September 2009

Gusdur di plintir media

Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.

Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.

Walah … walah, gitu aja kok repot! (//mbs)

Kuli dan kyai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!

Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”

“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”(//ahm)

Sumber: okezone.com, Kamis, 2 April 2009 – 15:05 wib

Jenderal

Pada saat selesai melantik WAKAPOLRI di Istana, Gus Dur mengadakan konferensi pers dengan wartawan.

Pada kesempatan itu, salah satunya diungkapkan tentang permintaan Gus Dur agar Jenderal Surojo BIMANTORO -
KAPOLRI – mengundurkan diri.

Ketika konferensi pers itu usai, dan Gus Dur dipapah memasuki mobil, beberapa wartawan mulai tidak mengerubutinya lagi.

Gus Dur berkata :”Hei, saya masih punya satu informasi lagi. Kalian mau tidak?”

“Apa itu Gus ?” tanya para wartawan serentak.
“Saya mau sebutkan nama seorang jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja,” ujar Gus Dur.

“Wah, siapa itu Gus ?” keroyok para wartawan yang tadinya sudah mulai menjauh. Mereka berlarian untuk mendapatkan berita eksklusif itu.

“Ok, saya akan katakan,” kata Gus Dur meyakinkan.” Jenderal itu adalah Jendral..(General) Electric …”

“Wooo kok itu sih Gus ?” protes para wartawan.
“Lha kalian ini, maunya bikin gosip melulu. Lha saya kan bener kalau General Electric itu paling berbahaya. Coba, mau nggak kamu kesetrum lampunya General Electric ? Berbahaya khan ?!, kamu bisa mati kan kalau kesetrum????”

Kombak-Kambek Rp. 5000

Seorang wisatawan asal Amerika, kata Gus Dur, datang ke Jogjakarta ingin melihat-lihat beberapa tempat wisata. Seminggu dia berada di kota gudeg itu, setelah mengunjungi beberapa tempat wisata kali ini ia ingin ke kebun binatang Gembira Loka.

Setelah bertanya letak kebun binatang itu kepada petugas hotel tempatnya menginap, akhirnya ia putuskan untuk mengunjunginya dengan naik becak. Sebab semua jenis angkutan sudah pernah ia coba kecuali becak.

Sambil membawa ransel kecilnya turis inipun segera memanggil tukang becak yang mangkal di depan hotelnya.

“How much to Gembira Loka?” tanya sang turis.

Sambil memekarkan lima jari tangan kanannya si tukang becak menjawab, “five thousand kombak-kambek mister !”.

Tiang listrik bengkok

Suatu kali, Gus Dur bepergian bersama rombongan kyai NU dengan naik bus . Seorang kyai dalam rombongan itu dikenal punya hobi menyandarkan tangannya di jendela mobil . Kadang tangannya samapi ke luar jendela .

Dan betul, saat perjalanan itu, tangan sanga kyai itu keluar dari jendela. Kebetulan Gus Dur melihatnya, lalu iapun mengingatkan pak kyai ini agar memasukkan tangannya, suapay tidak cedera kalau-kalau menyenggol tiang listrik . Kyai itu menolak .

Merasa jengkel peringatannya tidak dihiraukan, akhirnya Gus Dur bilang ” Tolong, pak kyai, tangannya jangan dikeluarkan, kalau kesenggol tiang listrik, tiang lisriknya bisa bengkok.”
Sang kyai segera memasukkan tangannya – tampaknya dia puas “kesaktian”nya diakui .

Eternit

Suatu kali ada seorang Kiai asal Madura yang membanggakan pembangunan pesantrennya pada Gus Dur. “Wah pesantren saya sudah jadi. Lengkap bangunannya luas, bertingkat,” katanya dengan wajah bangga. “Kapan-kapan Gus Dur harus ke sana, soalnya sudah lengkap dengan eternit” tambahnya lagi.

“Eternit “? Tanya Gus Dur sambil berfikir setiap bangunan kan memang perlu eternit (langit-langit plafon-red)

“Itu yang pakai ada komputernya,” jelasnya lagi.

“Ohh…. Internet,” jawab Gus Dur bersama-sama beberapa orang yang hadir.

Mengapa Clinton Ngakak?

Saat Presiden Gus Dur bertemu Presiden AS Bill Clinton, Januari 2000, tentu saja banyak diliput pers. Koran-koran Amerika memuat foto Gus Dur bersama Bill Clinton, dan Clinton terlihat ketawa terbahak sampai kepalanya mendongak.

Apa yang dikatakan Gus Dur sampqi membuat Clinton terpingkal-pingkal begitu?

Menurut Gus Dur, barangkali tentang joke yang disampaikan Presiden John Kennedy.

Gus Dur bercerita, suatau hari Kennedy mengajak serombongan wartawan ke ruang kerja Presiden AS. Di salah satu dindingnya ada sebuah lubang kecil tempat Presiden Dwight Eisenhower menaruh peralatan golfnya.
“Ini lho, perpustakaannya Eisenhower,” kata Kennedy mengejek pendahulunya itu. Clinton terpingkal mendengarkan cerita Gus Dur itu.

Dari mana Tus Dur mendapat cerita itu? “Saya baca di buku Ted Sorrensen,” kata Gus Dur.

“Lho jadi Presiden Clinton sendiri tidak tahu cerita itu?” tanya Jaya Suprana.

“Ya mungkin nggak tahu, sebab dia nggak baca buku. Mana mungkin Presiden Amerika baca buku? Kalau dia baca buku berarti kelihatan dia nggak punya kerjaan.

Nah, kalau Presiden Indonesia, justru harus baca buku sebab nggak ada kerjaan,” timpal Gus Dur.

Salah Sebut

SAAT diundang pada suatu acara di Malang Jawa Timur, Gus Dur ditunggu banyak pihak. Banser pun yang selalu sibuk bila Gus Dur ada acara di daerahnya juga memantau melalui HT yang selalu digenggamnya. Salah seorang anggota Banser berada di Bandara Abdurrahman Saleh, Malang. Ia senantiasa melaporkan perkembangan di sana setiap saat.

Begitu pesawat yang ditumpangi Gus Dur mendarat, dia senang bukan main. Maka dengan penuh semangat dia langsung melapor ke panitia lokasi acara, melalui HT nya. Karena begitu bersemangat diapun gugup tak karuan.

“Halo, kontek, kontek! Kiai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di bandara Abdurrahman Wahid,” katanya. Tentu saja panitia yang menerima laporannya kaget dan sekaligus tertawa.

Gila NU

RUMAH Gus Dur di kawasan Ciganjur sehari-harinya tak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalnagn NU maupun bukan. Tak jarang mereka datang dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, menurut Gus Dur ada tiga tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan membicarakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.

Orang NU jenis kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam duabelas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” katanya.

Orang jenis ketiga, Gus?

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya jam dua

Saudara Kamar Mandi

SUATU ketika seorang Kiai kedatangan tamu seorang Bupati. Sang Kiai dalam sambutannya mengatakan, “Kami sudah membangun beberapa kamarmandi dan saudara-saudaranya,” Hadirin pun bingung mendengarnya, termasuk pak Bupati.

Ternyata yang dimaksud sang Kiai selain kamar mandi juga telah dibangun WC. Karena di depan para tamu dan orang banyak, sang Kiai segan menyebut kata WC. Maka ia menghaluskan kata itu, karena dianggap kurang patut

Malu dan Kemaluan

KISAH ini terjadi di Jawa Timur (Jatim). Suatu kali ada seorang caleg (calon legislative) PKB marah-marah karena namanya tidak masuk dalam daftar calon terpilih. K.H . Hasyim Muzadi (Yang saat itu adalah Ketua DPWNU Jatim) bilang, “Wis to (sudahlah-red), soal caleg itu kan masalah dunia. Itu soal kecil.”

Tapi caleg batal itu tetap jengkel, kata si Caleg, “Bukan begitu Kiai. Tapi ini masalah kemaluan.”

Sambil terkekeh, Gus Dur berkomentar, ” Ya begitu itu orang NU. Malu dan kemaluan dicampur-campur.”

” Nyedot kang ? “

” Para santri dilarang keras merokok !” Begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kyai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri . Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol .

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam . Suasanapun jadi gelap gulita . Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihat jalan-jalan mencari udara segar .

Diluar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambil merokok . Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu .

“Nyedot , Kang?” sapa si santri sambil menghampiri “senior”nya yang sedang asyik merokok itu.

langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang “yunior”. Saat dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenali wajah orang tadi .
saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya .

” Hei , rokokku jangan dibawa ! ” teriak Kyai Fattah .

Indonesia Minta di Jajah

Dalam sebuah seminar beberapa tahun yang lalu Gus Dur mengungkapkan bahwa Belanda bukan sebuah negara yang besar, tidak punya modal, tidak punya pemikir-pemikir ulung, jadi mereka tidak memberikan apa-apa kepada kita, malah merampok kita habis-habisan.

Lain dengan India yang dijajah Inggris, atau Filipina yang dijajah Amerika. Negara-negara penjajah yang itu punya sesuatu yang diberikan kepada negara-negara yang dijajah, misalnya saja tentang sistim hukum yang lebih teratur, dsb.

Nah, lalu ada pemikiran gila, supaya Inggris dan Amerika memberikan sesuatu kepada kita.

Bagaimana caranya?
Kita nyatakan perang melawan Inggris dan Amerika!

Lho, kenapa begitu?
Logikanya kita kan pasti kalah, jadi kita akan dijajah lagi oleh Amerikan dan Inggris.

Masalahnya sekarang, bukannya kalau kita kalah.
Masalahnya adalah, bagaimana kalau Indonesia yang menang ???

Takut Istri

Memberikan contoh dengan lelucon adalah kebiasaan Gus Dur ketika berpidato. Tujuannya, kata kyai ini agar hadirin dapat memahami maksud dari apa yang disampaikan.

Dalam sebuah forum yang membahas soal kesetaraan laki-laki dan perempuan, seorang peserta bertanya kepada kyai eksentrik ini, yang isinya mungkin agak “pribadi.”

Peserta itu bertanya, apakah Kyai sebesar Gus Dur juga takut pada istri?

Mendengar pertanyaan yang “sensistif” itu Gus Dur menjelaskan dengan “bijak” (jika tidak mau disebut berkelit).

“Begini ya….. Saya punya cerita,” kata Gus Dur memulai, sementara peserta sudah siap-siap dengan serius mendengarkan jawaban tentang “jeroan” rumah tangga Gus Dur.

“Nanti di akhirat, orang dibagi dua barisan,”

Gus Dur melanjutkan,”barisan pertama untuk orang-orang yang takut sama istrinya. Barisan kedua untuk yang berani sama istrinya.”

Peserta seminar yang tadinya serius, langsung dapat menerka ini pasti guyonan.

“Di barisan pertama orang antri berduyun-duyun. Ternyata di barisan kedua cuma ada satu orang, badanya kecil lagi.”

“Orang-orang di barisan pertama heran melihat si kecil itu sendirian. Mereka pikir berani sekali tuh orang kecil-kecil.”

Lalu dikirim delelgasi dari barisan pertama untuk menanyakan. Datanglah delegasi itu pada si kecil dia bertanya, “hey kamu koq berani banget baris sendirian disini, emangya kamu nggak takut sama istri kamu?”

Mendengar pertanyaan itu, si kecil menjawab “Wah…. saya juga nggak tahu nih. Saya disini disuruh istri saya.”

Ats jawaban dai sang Kyai, seluruh peserta langsung terbahak. Tahulah mereka maksudnya, kesimpulannya semua laki-laki di dunia……

Becak, dilarang masuk !

Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD ( buku ; setahun bersama Gus Dur, kenangan menjadi menteri di saat sulit ) tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik .

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “becak dilarang masuk” . Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berati jalan itu tidak boleh dimasuki oleh becak .

” Apa kamu tidak melihat gambar itu? itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak pak polisi . ” Oh saya melihat pak , tapi itu kan gambarnya becak kosong, tidak ada pengemudinya . Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak .

” Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak pak polisi lagi .

” Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan , bukan jadi tukang becak seperti ini ,” jawab si tukang becak sambil cengengesan .

Hanyutnya Presiden Soeharto

Sudah tentu mantan presiden Soeharto kebagian sentilan Gus Dur. Ceritanya, suatu hari Pak Harto memancing di sebuah sungai. Bekas orang kuat itu dikenal gemar memancing (dan barangkali bukan cuma ikan yang dipancingnya). Saking asyiknya, Pak Harto tidak sadar bahwa air sungai itu meluap, lalu terjadilah banjir besar.

Pak Harto hanyut terbawa arus deras. Selama hanyut itu rupanya dia tak sadarkan diri, dan ketika dia terbangun dia berada jauh dari tempatnya semula. Keadaannya sangat sepi, hanya ada seorang petani, yang rupanya telah menolong Pak Harto.

Merasa berutang budi dan sangat berterima kasih, Pak Harto berkata pada penolongnya itu.

“kamu tahu nggak saya ini siapa?” tanya Pak Harto.
“Tidak,” jawab si penolong.

“Saya ini Soeharto, Presiden Republik Indonesia.
Nah, karena kamu sudah menolong saya, maka kamu boleh minta apa saja yang kamu mau, pasti saya beri. Ayo katakan saja keinginan kamu.”

“Saya cuma minta satu hal saja, Bapak Presiden,” kata sang penolong. “Katakan saja apa itu?” Kata Pak Harto.

“Tolong jangan bilang siapa-siapa bahwa saya yang menolong Bapak.”

Obrolan Tiga Presiden

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa…setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”

Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”

“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?”

“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat…
“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur.

“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

“Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem.

Kaum Almarhum

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” Katanya.

Jin dan Tiga Manusia

Menurut Gus Dur, pernah ada sebuah kapal berisi penumpang berbagai bangsa karam. Ada tiga orang yang selamat, masing-masing dari Perancis, Amerika dan Indonesia. Mereka terapung-apung di tengah laut dengan hanya mengandalkan sekeping papan.

Tiba-tiba muncul jin yang baik hati. Dia bersimpati pada nasib ketiga bangsa manusia itu, dan menwarkan jasa. “Kalian boleh minta apa saja, akan kupenuhi,” kata sang jin. Yang pertama ditanya adalah si orang Perancis.

“Saya ini petugas lembaga sosial di Paris,” katanya.
“Banyak orang yang memerlukan tenaga saya. Jadi tolonglah saya dikembalikan ke negeri saya.” Dalam sekejap, orang itu lenyap, kembali ke negerinya.

“Kamu, orang Amerika, apa permintaanmu?”

“Saya ini pejabat pemerintah. Banyak tugas saya yang terlantar karena kecelakaan ini. Tolonglah saya dikembalikan ke Washington.”

“Oke,” kata jin, sambil menjentikkan jarinya. Dan orang Amerika lenyap seketika, kembali ke negerinya.

“Nah sekarang tinggal kamu orang Indonesia. Sebut saja apa maumu.”

” Duh, Pak Jin, sepi banget disini,” keluh si orang Indonesia. “Tolonglah kedua teman saya tadi dikembalikan ke sini.”

Zutt, orang Perancis dan Pria Amerika itu muncul lagi.

Gus Dur Beli Pesawat

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat dulu, Pertengahan tahun 2000, Gus Dur bertemu dengan eksekutif puncak Boeing, industri pusat raksasa pesawat terbang. Orang pun bertanya-tanya, apa pula urusannya Gus Dur dengan pembuat pesawat itu? Memangnya dia ahli pesawat terbang seperti Habibie?

Akhirnya kepala protokol Istana Presiden Wahyu Muryadi mengungkapkan maksud pertemuan itu; Gus Dur mau beli pesawat kepresidenan, yang selama ini memang tidak pernah dimiliki oleh pemerintah indonesia. Kebiasaan Gus Dur tetap ampuh; bikin pernyataan kontroversial di luar negeri, dan menimbulkan reaksi di dalam negeri.

Pers Indonesia pun sibuk mengusut rencana pembelian pesawat yang waktunya dirasa tidak tepat itu. Krisis ekonomi saja sama sekali terlihat belum diatasi, lha kok Presiden RI mau punya pesawat pribadi. “Perlu dong,” kata Wahyu Muryadi sambil membandingkan dengan Presiden Amerika serikat, yang sudah lama memiliki air force one yang mewah itu.

Dari mana uang puluhan juta dollar untuk membeli pesawat itu? Menko Rizal Ramli, yang bekas aktivis dan pengamat ekonomi yang kritis kok malah bilang siap melaksanakan dan uang untuk pembelian pesawat sudah ada, apa ini bukan pemborosan uang negara? Apa memang ada “uang nganggur” di laci pemerintah? Apa Rizal Ramli ingin cari muka kepada bosnya?

Mendengar sikap siap melaksanakan Rizal Ramli,kritik publik kian gencar. Sampai Gus Dur sendiri kembali ke Jakarta.

Wartawan bertanya,”Gus, mengapa anda merasa perlu membeli pesawat boeing itu?”

Jawab Gus Dur; “Lho, siapa yang mau beli pesawat?”

Wahyu Muryadi dan Rizal Ramli kali ini yang pusing. Sudah sibuk membela rencana Gus Dur, eh yang dibela malah membantahnya.

Menebak usia mumi

Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman orde baru . Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir . Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik . Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis . Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel .

Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup . Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru . Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah . Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah .

Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup .

“Boleh, silahkan,” Jawab panitia .

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat pak komandan itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri .

“Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan tujuh hari,” Katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun .

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum . Jawaban itu tepat sekali ! Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu ? hadiah pun diberikan . Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya dan sebagainya . Pemerintah pun bangga bukan kepalang .

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak komandan dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel .

“Anda luar biasa,” kata mereka . ” Bagaimana cara anda tahu dengan persis usia mumi itu?”

Pak komandan dengan enteng menjawab,”saya gebuki, ngaku dia .”

Lebih Enak Jadi Makelar Motor

“Gus, apakah Gus Dur ikut menjadi mak comblangnya Dessy dengan Latief?” tanya wartawan pada saat isu pernikahan Menteri Tenaga Kerja A Latief dengan artis Dessy Ratnasari beredar.

“Ah, nggak! Daripada jadi makelar begituan, lebih enak jadi makelar motor,” jawab Gus Dur.

Mendengar jawaban tersebut, si wartawan terus mengejar, “Apakah untungnya lebih besar kalau jadi makelar motor, Gus?”

“Bukan begitu. Bayangkan, kalau menjadi makelar orang kawin itu susah. Kalau makelar sepeda motor kan bisa ngelapi, dan nyobain, lalu numpaki. Coba, mana bisa begitu kalau jadi makelar kawinan? Jangankan mau numpaki, mencet klaksonnya saja dilarang,” jawab Gus Dur.

Semua presiden punya penyakit gila

Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia
punya penyakit gila.

Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila ilmu, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.

Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”

Apa selesai sampai di situ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie, Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.

Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.

Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja.

Oleh: galuh | 29 Desember 2009

Ki H Anom Suroto, Durna Gugur

  • Lakon wayang : Durna Gugur (Seri Baratayudha)
  • Dalang  : Ki H Anom Suroto
  • Sumbangan : Mas Jarot Riyanto
  • File : MP3 /4400 khz/12bkbps/16 file

Sekali lagi, bukti kecintaan rekan saya pada blog ini.   Mas Jarot Riyanto, yang disela kesibukannnya sebagai Ahli Ilmu Tanah, masih berkenan menyempatkan diri mengupload lakon Durna Gugur, Satu dari Seri Baratayudha yang dikemas dengan sangat menarik oleh dalang kondang KI H Anom Suroto.

DURNA GUGUR

Oleh : Jarot Riyanto

Durno Gugur adalah masih serial Baratayuda, yang menceritakan perang besar antara Astina dan Pandawa.  Dalam serial kali ini Ki Dalang Ki H.Anom Suroto membawakan cerita yang cukup menarik dimana diceritakan bagaimana perjuangan Pandito Durno sebagai Guru Kurawa Astina sekaligus Pandawa harus menunaikan kewajiban sebagai senopati perang untuk menumpas Pandawa.

Sebagai pembuka cerita dikisahkan tentang kesuksesan Adipati Karno yang telah berhasil membunuh Gatotkaca, sehingga menimbulkan amarah yang besar Werkudoro sebagai ayahnya.  Hal ini mendorong Bomowikoto dan Joyowikoto yang dikenal dengan sebagi senopati kembang sepasang untuk menyanggupi menjadi senopati,yang akhirnya berhadapan dengan senopati dari pandawa yaitu Desto Jumeno dan Woro Srikandi.

Sementara itu Kumboyono atau Pandito Durno yang telah mendapat tambahan ilmu dari gurunya Romo Parasu, dengan cara melaksanakan topo mbisu, dimana dengan cara seperti itu Pandito Durno tidak dapat terlihat oleh siapapun.  Dengan tekat yang bulat akhirnya Pandito Durno menuju peperangan dengan terlebih dahulu menitip pesan supaya anaknya Aswotomo disembunyikan, dengan majunya Pandito Durno ke medan perang dengan menggunakan ajian Lare Manyuro membuat pasukan Pandawa kocar kacir karena tidak dapat melihat musuhnya, sehingga Prabu Kresno berupaya mencari ksatria yang dapat menandingi Pandito Durno.

Bagaimana kelanjutan cerita ini dapatkah senopati Kembang Sepasang yang sakti dapat menandingi Pandawa, dan siapa yang akan menjadi ksatria untuk melawan Durno serta bagaimana kehebatan dari masing pihak dapat anda  ikuti dalam serial yang dibawakan dengan baik oleh Dalang Ki H.Anom Suroto

  1. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 1a
  2. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 1b
  3. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 2a
  4. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 2b
  5. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 3a
  6. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 3b
  7. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 4a
  8. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 4b
  9. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 5a
  10. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 5b
  11. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 6a
  12. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 6b
  13. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 7a
  14. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 7b
  15. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 8a
  16. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 8b

Admin: Untuk Mas Jarot Riyanto

Mewakili para sutresna budaya wayang kulit, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas semua jerih payah dan dedikasi anda.  Ditunggu untuk lakon-lakon yang lainnya!!!

Tulisan Sebelumnya »

Kategori